Mimpi yang oleh kebanyakan orang dianggap sebagai bunga tidur, dalam arti yang lain dapat dianggap sebagai kekuatan bawah sadar yang mampu melipatgandakan keinginan kita menjadi kenyataan. Dalam pengertian yang tidak terlalu menyimpang (menurut saya), inilah yang disebut oleh Jalaluddin Rakhmat ketika mengantarkan buku Kecerdasan Milyuner (Ahaa, 2003), sebagai “kekuatan imajinasi”. Mimpi dalam pengertian ini tidak lagi berada dalam ruang bawah sadar, karena imajinasi—melampaui dan mendahului batas waktu—merupakan proses kreasi ruang-ruang kemungkinan yang diperkuat oleh proses rasionalisasi logika-logika yang ada dalam akal (Anis Matta, 2003). Dalam pengertian ini mimpi – imajinasi berubah menjadi cita-cita.
Oleh tiga serangkai—Dimitri Mahayana, Agus Nggermanto, dan Khairul Ummah—penulis buku Kecerdasan Milyuner, apa yang sedang kita perbincangkan ini mereka sebut sebagai “kecerdasan aspirasi”. Menurut mereka, kecerdasan aspirasi adalah kecerdasan manusia dalam mengenali dan mengelola keinginannya. Dalam batas yang paling longgar, keinginan untuk meraih sesuatu selalu didahului oleh penciptaan mimpi. Belakangan, bahkan mimpi menjadi semacam tuntunan, yang selalu ditekankan oleh banyak pakar motivasi, untuk meraih sukses.
Penelitian mengenai orang-orang sukses menunjukkan bahwa mereka semua memiliki mimpi yang menggerakkan hasrat untuk meraihnya. Mimpi mereka besar, dan karenanya hasil mereka juga besar. Mimpi adalah sumber motivasi yang menggerakkan. Mimpi adalah tujuan yang ingin diraih. Karena itulah pribadi-pribadi yang tidak memiliki mimpi tidak akan meraih sukses, karena tidak memiliki tujuan yang ingin dicapai. Nah lo!
Andaikata Thomas Alva Edison tidak memiliki mimpi untuk membuat lampu listrik, aktivitas manusia tentu tidak seaktif saat ini. Apabila Wright bersaudara tidak mempunyai mimpi manusia bisa terbang, mungkin kita tidak akan mengenal pesawat terbang, dan lain-lain. Mungkin anda bisa menambahkan,
a n d a i s a y a t i d a k b e r m i m p i . . . . . . . . p a s t i t i d a k a k a n . . . . . . . . .
Orang-orang sukses menjadi sukses besar karena mereka punya mimpi yang besar. Mimpi mereka besar karena mereka selalu berfikir besar. Orang yang berfikir besar selalu berkata
A K U B I S A !
Berdasarkan hasil penelitian, cara mereka berfikir yang selalu positif memberikan energi yang luar biasa pada keberhasilan dalam meraih tujuan yang diinginkan. Inilah yang disebut sebagai the power of possitive thinking. Mereka yang bermimpi dan berfikir besar melewati berbagai rintangan yang jauh lebih besar, tapi mereka selalu berhasil mencapai puncak, karena mereka selalu berfikir A K U B I S A! Orang-orang ini oleh Paul Stoltz, dalam bukunya yang sangat bagus Adversity Quotient, dinamai sebagai Climber (Pendaki). Para climber ini memiliki kekuatan pengelolaan emosi yang hebat sehingga mampu bertahan terhadap kesulitan-kesulitan (tangguh), dan kesetiaan untuk tetap membela mimpi-mipinya (teguh).
Kisah berikut ini, saya kutipkan dari buku Kecerdasan Milyuner dan Berani Gagal (Billi P.S. Lim, 1998), tentang keteguhan hati orang-orang besar untuk terus maju meraih kesuksesan:
Louis Pasteur kehilangan tiga anak wanitanya akibat terkena penyakit, dan oleh karena kesedihannya yang mendalam, akhirnya ia menemukan metode vaksinasi yang amat berguna bagi umat manusia. Louis Pasteur mengubah kepedihannya menjadi mimpi untuk menyelamatkan banyak orang. Dialah penemu vaksin yang kini menyelamatkan banyak orang di seluruh penjuru dunia.
Albert Einstein, sang genius yang merupakan manusia terkemuka abad-20 versi Time, ketika kecil dianggap guru sekolah dasarnya amat bodoh. Ibunya marah dan membantah. Einstein juga mengalami kegagalan pada tesnya ke ETH Zurich, dan diterima bersyarat. Dalam kuliah pun ia tertatih-tatih. Prof. Minkowsky, dosen matematikanya, menjulukinya sebagai anjing bodoh. Namun dengan semangat juangnya, Einstein ternyata berhasil membuktikan dirinya sebagai fisikaan terbaik di abad-20. Di antara karyanya yang paling terkenal adalah persamaan kesetaraan masa dan energi, teori relativitas dan teori kuantum. Einstein menjadikan keingintahuannya akan alam sebagai motivasi untuk meraih prestasi.
Minggu, 23 November 2008
creative city
bandung, kota indah dengan landmarknya yang seperti kawah jika kita lihat secara keliling dari ujung ke ujung kota bandung. dengan cuaca yang cukup sejuk di siang maupun di malam hari, telah menjadikan kota bandung sebagai pusat urbanisasi masnusia indonesia. ramai-ramai berbondong-bondong pergi ke bandung untuk apa? sekolah? liburan? apa aja alasannya masuk di akal, karena emang itulah kenyataan yang di hadapi kota bandung pada masa sekarang ini.
sebagai kota yang selalu menunjukkan peningkatan penduduk di setiap tahun ajaran baru, bandung telah menjadi kota yang amat kreatif di bandingkan dengan kota-kota lainnya di indonesia, bahkan jakarta sendiri sebgai pusat ibukota. ratusan orang datan setiap tahunnya untuk menjadi penyumbang ide-ide kreatif bagi bandung, ibu kota jawa barat. orang-orang yang datang dari segala penjuru indonesia menjadikan kota bandung sebagai pusat pengaplikasian ide-ide kreatif, dimana selain ditunjang dengan serba adanya bahan baku dan landmark kota yang baik untuk di kunjungi oleh warga kota jakarta dan sekitar, juga merupakan kota dengan ratusan keunikannya.
bandung yang memiliki segudang potensi untuk menjdai besar harusnya tidak mempermasalahkan banyaknya urbanisasi yang terjadi kedalam kota tersebut. dengan segala "keanehannya" (keunikannya)bandung harusnya mampu menata kotanya dengan baik. bukan mempermasalahkan bentuk ide-ide baru yang di anggap tidak menyehatkan struktur bangun bentuk kota bandung.
kita para pendatang juga memiliki tanggung jawab besar terhadap kesehatan kota bandung. jadikanlah kota ini ajang berkreasi dan beraktivitas yang baik, jangan pernah padamkan api semangat kemerdekaan dengan terlalu menganut gaya hidup budaya barat.sudah seharusnya kita, apalagi kalangan mahasiswa menjadi kota bandung sebagai "trully Indonesia in Java"
intinya, berkreasilah kita semua di bandung, dan jangan lupa sebarkan kreasi kita di kota lainnya, jangan terjadi pemusatan seperti di zaman alm.pak harto dulu.
terima kasih.
sebagai kota yang selalu menunjukkan peningkatan penduduk di setiap tahun ajaran baru, bandung telah menjadi kota yang amat kreatif di bandingkan dengan kota-kota lainnya di indonesia, bahkan jakarta sendiri sebgai pusat ibukota. ratusan orang datan setiap tahunnya untuk menjadi penyumbang ide-ide kreatif bagi bandung, ibu kota jawa barat. orang-orang yang datang dari segala penjuru indonesia menjadikan kota bandung sebagai pusat pengaplikasian ide-ide kreatif, dimana selain ditunjang dengan serba adanya bahan baku dan landmark kota yang baik untuk di kunjungi oleh warga kota jakarta dan sekitar, juga merupakan kota dengan ratusan keunikannya.
bandung yang memiliki segudang potensi untuk menjdai besar harusnya tidak mempermasalahkan banyaknya urbanisasi yang terjadi kedalam kota tersebut. dengan segala "keanehannya" (keunikannya)bandung harusnya mampu menata kotanya dengan baik. bukan mempermasalahkan bentuk ide-ide baru yang di anggap tidak menyehatkan struktur bangun bentuk kota bandung.
kita para pendatang juga memiliki tanggung jawab besar terhadap kesehatan kota bandung. jadikanlah kota ini ajang berkreasi dan beraktivitas yang baik, jangan pernah padamkan api semangat kemerdekaan dengan terlalu menganut gaya hidup budaya barat.sudah seharusnya kita, apalagi kalangan mahasiswa menjadi kota bandung sebagai "trully Indonesia in Java"
intinya, berkreasilah kita semua di bandung, dan jangan lupa sebarkan kreasi kita di kota lainnya, jangan terjadi pemusatan seperti di zaman alm.pak harto dulu.
terima kasih.
creative and management
Creative Management
“a mix of creative economic and good business management”
Economic Creative
Pada dasarnya pertumbuhan ekonomi kreatif digerakkan oleh kapitalis kreativitas dan inovasi dalam menghasilkan produk atau jasa dengan kandungan kreatif. Kata kuncinya adalah kandungan kreatif yang tinggi terhadap masukan dan keluaran aktivitas ekonomi ini. istilah ekonomi kreatif memang masih relative baru. Tidak mengherankan kalau pengertiannya belum didefinisikan dengan jelas. Secara umum dapat dikatakan bahwa ekonomi kreatif adalah system kegiatan manusia yang berkaitan dengan kreasi, produksi, distribusi, pertukaran dan konsumsi barang dan jasa yang bernilai cultural, artistic, estetika, intelektual, dan emosional bagi para pelanggan di pasar.
John howkins dalam The Creative Economy (2001) menemukan kehadiran gelombang ekonomi kreatif setelah menyadari untuk pertama kalinya pada tahun 1996 karya hak cipta Amerika Serikat mempunyai nilai penjualan ekspor sebesar 60,18 miliar dolar, yang jauh melampaui ekspor sector lainnya, seperti otomotif, pertanian, dan pesawat. Dia mengusulkan 15 kategori industry yang termasuk dalam ekonomi kreatif (dapat dilihati di Tabel 1). Perlu diketahui, interpretasi negara-negara didunia tidak secara mutlak mengacu ke 15 sektor ini, negara-negara didunia mengkontektualkan lagi sesuai kondisi dan prioritas negaranya masing-masing.
Ekonomi creative patut untuk dikembangkan di tengah ancaman krisis yang melanda dunia khusus Indonesia. Kita dihadapkan oleh ratusan perusahaan dalam negeri dan luar negeri yang berbondong-bondong melakukan PHK terhadap ribuan tenaga kerja di dunia. Apa lagi yang dapat kita lakukan selain menciptakan lapangan kerja baru serta selalu mencari ide posotif baru yang dapat menghasilkan pundi-pundi dalam kehidupan kita.
Oleh Menteri ekonomi, Mari Elka Pangestu, mengungkapkan, peran industri ekonomi kreatif tak bisa dianggap remeh. Sepanjang 2002-2006, industri kreatif Tanah Air menyumbang Rp 104,6 triliun atau 6,3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB); dan berkontribusi 10,6 persen dari total ekspor atau senilai Rp 81,4 triliun. Ini tentu capaian fantastis, mengingat Singapura saja, kontribusi industri kreatif hanya 2,8 persen terhadap PDB. Sementara Inggris mencapai 7,9 persen. Karena tak bisa dibilang kecil, pemerintah akan mendukung penuh 15 sektor industri kreatif.
Ekonomi kreatif memberikan gambaran kepada kita tentang situasi bisnis persaingan paling kejam. Kelas kreatif di dalam industry ini tidak pernah berpuas diri dan selalu mencari jalan untuk berinovasi kalau ingin terus berkembang dan tumbuh. Kunci suksesnya antara laian kepiawaian dalam membaca peluang, kecepatan menghadirkan produk dalam merebut peluang, kecermatan dalam memperhitungkan tingkat resiko berikt dengan rencana cadangan, kemampuan berkolaborasi dengan pihak lain, dan siasat yang jitu dalam menghadapi persaingan. Tidak heran bahwa industry kreatif mempunyai cirri-ciri antara lain siklus hidup produknya yang semakin banyak, bersifat musiman atau menurut peristiwa tertentu, produk yang mudah di bajak atau di tiru, dan tingkat persaingan yang ketat.
Oleh karena itu di butuhkan perencanaan yang benar-benar matang, selain harus di dukung oleh 3T, yaitu:
1. Talenta: Sudah jelas, untuk menghasilkan sesuatu yang berdaya saing, dibutuhkan sdm yang baik, yaitu Talenta. Orang-orang yang memiliki talenta memiliki penghasilan yang tinggi dari gagasan-gagasan kreatifnya. John Howkins menyebut mereka sebagai orang-orang yang hidup dari penciptaan gagasan dan mengeksploitasinya dengan berbagai cara. Florida mengklasifikasi kelas ini, ada yang bernuansa akademik (universitas), ada yang berorientasi teknologi (tech-pole) ada yang bernuansa artistik (bohemian), pendatang (imigran & warga negara keturunan etnis tertentu) bahkan sampai pada yang bernuansi orientasi sex (gay). Tom Peters bahkan mengatakan dalam seminarnya, dengan gaya yang khas ia mengatakan: bila anda ingin inovatif, gampang saja, bergaulah dengan orang-orang aneh dan anda akan bertambah kreatif. Tapi jika anda bergaul dengan orang-orang yang membosankan, anda akan semakin membosankan juga.
2. Toleransi: Sebelum era ekonomi kreatif ini teridentifikasi, orang beranggapan bila ingin mendapat pekerjaan sebaiknya pindah kesuatu daerah dimana terdapat pengkonsentrasian kawasan-kawasan industri (Aglomerasi). Mungkin itu tetap benar. Namun jaman juga mengalami perubahan. Florida mengatakan bahwa saat ini lapangan pekerjaan akan tercipta di tempat-tempat dimana terdapat konsentrasi yang tinggi dari para pekerja kreatif, bukan kebalikannya. Mengapa, mudah saja, orang-orang yang memiliki talenta tinggi memiliki daya tawar yang tinggi, mereka memiliki banyak alternatif karena permintaan tinggi. Bila mereka ditawari pekerjaan didaerah-daerah yang sepi dan membosankan, mereka cenderung akan menolak, maka yang lebih berkepentingan adalah user dari pekerja kreatif ini dan user akan mengalah, asalkan mereka mendapat SDM yang berkualitas. Bahkan juga dengan adanya internet, pekerja-pekerja bahkan tidak perlu masuk ke kantor, cukup bekerja jarak jauh baik di cafe maupun di rumah-rumahnya. Tom Peters kembali membuat analogi seperti ini: bayangkan anda membangun sebuah stadion olah raga yang sangat canggih disuatu kota, tapi tidak ada kelompok sepak bola yang handal dikota itu. Apakah penonton akan datang ke kota tersebut untuk melihat pertandingan yang tidak bermutu? Tentu tidak. Apa hubungannya dengan Toleransi? Ini berkaitan dengan iklim keterbukaan. Bila suatu daerah memiliki tingkat toleransi yang tinggi terhadap gagasan-gagasan yang gila dan kontroversial, serta mendukung orang-orang yang berani berbeda, maka iklim penciptaan kreatifitas dan inovasi akan semakin kondusif, karena pekerja kreatif dapat bebas mengekpresikan gagasannya. Termasuk dalam toleransi adalah kemudahan untuk memulai usaha baru dan ketersediaan kanal-kanal solusi finansial untuk mengembangkan bisnis.
3. Teknologi. Teknologi sudah menjadi keharusan dan berperan dalam mempercepat, meningkatkan kualitas dan mempermudah kegiatan bisnis dan bersosial. Dewasa ini semakin banyak pekerjaan manusia yang digantikan oleh teknologi membuat manusia sebagai operatornya memiliki lebih banyak waktu untuk memikirkan gagasan-gagasan baru. Jika pernyataan ini saya balik, maka menjadi demikian: semakin manusia direpotkan oleh aktivitas fisik dan tidak dibantu oleh teknologi, maka sebagian besar waktu manusia akan habis terbuang untuk urusan teknis. Dalam arti lain: teknologi menunjang produktifitas. Dengan demikian, kemudahan mengakses dan membeli teknologi, transfer teknologi adalah faktor penting dalam pembangunan ekonomi kreatif. Contoh dalam penggunaan perangkat lunak. Bagi Negara berkembang seperti Indonesia, pembelian lisensi perangkat lunak adalah suatu kendala besar karena harga perangkat lunak di Jakarta masih relatif sama dengan harga di New York. Tentu dirasakan mahal oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Biaya mengakses internet di Indonesia juga masih dirasakan terlalu tinggi dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Ini adalah faktor penghambat kelancaran lahirnya industri-industri baru.
Jadi, telah jelas bahwa realitas dan fenomena ekonomi kreatif sebenarnya bukanlah hal yang baru bagi Indonesia yang telah terbukti memiliki aset kreativitas sejak dulu. Indonesia tidak kekurangan modal kreatifitas hanya kekurangan kemampuan mengintegrasikannya. Untuk itu langkah-langkah yang dibutuhkan adalah: Mengenali apa yang kita miliki (jati diri bangsa dan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia) dan menyusun langkah-langkah konstruktif sebagai berikut:
1. Menyusun Cetak Biru Ekonomi Kreatif Indonesia yang melibatkan seluruh Stake Holder.
2. Mengajukan usulan kebijakan Ekonomi Kreatif yang konprehensif
3. Menggiatkan inisiatif, baik swasta maupun Pemerintah untuk menciptakan tempat-tempat pengembangan talenta industri kreatif didaerah-daerah
4. Menciptakan produk & jasa yang kreatif dan berbasis budaya berdasarkan prioritasnya, misalnya:
- Pariwisata
- Kerajinan
- Gaya Hidup (spa, herbal, kulinari)
- Furniture, dll
5. Menciptakan pasar berbasis budaya didalam negeri karena selama ini selalu menjadi target pasar dari negara lain
6. Menumbuhkan semangat invovasi dan kreativitas didalam dunia pendidikan agar generasi muda mampu melahirkan gagasan baru berdasarkan apa yang sudah dimiliki sejak dulu
7. Transfer teknologi yang konsisten terhadap industri kreatif berwawasan budaya seperti disebut diatas
8. Meningkatkan pendapatan devisa berbasis kreatif atas sektor-sektor tersebut diatas
9. Promosi Potensi Indonesia
- Alam
- Warisan Budaya (herritage)
- Budaya
10. Sosialisasi, diseminasi dan promosi secara sistimatis tentang kekuatan Indonesia dibidang Industri kreatif agar diperhitungkan di Peta kompetensi Dunia.
Tentu saja agenda yang diutarakan disini barulah sebuah insights untuk pembangunan ekonomi kreatif di Indonesia. Dan untuk mengintegritaskan seluruh agenda, konsep dan rencana jangka panjang, tentunya kita akan membutuhkan sebuah manajemen yang baik pula, yang akan dipaparkan di bawah ini.
MANAJEMEN BISNIS
1. MANAJEMEN BISNIS
Bisnis merupakan kegiatan dalam menjual produk atau jasa agar memberikan keuntungan bagi pemiliknya. Bisnis merupakan kegiatan beresiko memberikan kerugian baik dari segi material atau non-material. Namun bila berhasil maka akan memberikan keuntungan dan kesejahteraan bagi pemiliknya. Agar terhindar dari resiko bisnis maka bisnis harus dijalankan dengan tepat dengan perencanaan yang matang dan pelaksanaan yang serius dan mantap. Bisnis terdiri atas beberapa komponen penting yang saling mendukung dan melengkapi. Bila salah satu komponen gagal maka akan mengganggu komponen lain. Berikut adalah komponen-komponen bisnis tersebut:
• Manajemen, yaitu bagian yang merencanakan, mengelola, dan menjalankan bisnis. Komponen ini bisa disebut sebagai backend yaitu komponen yang berada di belakang layar.
• Kekuatan brand atau image, yaitu karisma, kekuatan emosional yang dimiliki oleh perusahaan dan merupakan pandangan/perasaan masyarakat terhadap perusahaan atau produk.
• Produk atau Layanan, komponen yang dijual atau ditawarkan kepada pasar. Komponen ini bisa disebut sebagai front end karena komponen ini berada didepan. Komponen inilah yang berhadapan dengan masyarakat.
• Partner, yaitu pihak yang ikut membantu dalam menjalankan bisnis.
• Pelanggan, yaitu pihak yang akan menerima tawaran atau membeli produk dan layanan yang ditawarkan.
Dalam membentuk perencanaan yang matang untuk melakukan suatu kegiatan bisnis, berikut langkah-langkah yang harus kita ketahui :
• The Scope Of Bussiness,
• Business Environment,
• Business Ethics & Responsibility,
• The Legal Form of the Business Ownership,
• The Global Context of Business,
• The Function of Management,
• Organizing the Business Enterprise,
• Marketing Process & Consumer Behavior,
• Principle of Accounting & Finance,
• Managing Human Resource,
• Managing Operation & Improving Quality,
• Managing Information System & Communication Technology.
Hal-hal yang harus diperhatikan:
Laws and regulation
What are some key laws and regulations under which this company and industry must operate ?
The economy
How does the state of the economy influence the sales of this company’s product?
Technology
What new technologies strongly affect the company you have selected?
Demographics
What changes in the population might affect the company’s customer based ?
Social issues
What changes in society affect the market for your company’s products ?
Suppliers
How does you company’s relationship with suppliers affect its profitability ?
Competitors
What companies compete with the firm you have selected? Do they compete on price, on quality, or on other factors ?
New Entrants
Are new competitors to the company likely ? Possible!
Substitutes
Is there a threat of substitutes for this industry’s existing products ?
Customer
What characteristics of the company’s customer based influence the company’s competitiveness ?
2. Menggali dan Menjaring Kreativitas
PENGEMBANGAN bisnis hanya akan terjadi bila terus ditemukan kreativitas dalam seluruh aspek manajemen bisnis, baik dari produk, proses, marketing dan lainnya agar dapat diimplementasikan menjadi inovasi. Sebagai contoh inovasi produk kripik salak muncul karena adanya hasil salak yang cukup melimpah serta teknologinya tidak terlalu jauh berbeda dengan proses pembuatan kripik pisang. Viral marketing muncul setelah penggunaan media internet menjamur dan familiar di masyarakat.
Kreativitas, ide-ide baru dan inovasi sangat erat hubungannya. Kreativitas adalah segala hal yang berhubungan dengan munculnya ide-ide baru. Sedang inovasi merupakan tindakan yang berkait dengan penerapan ide-ide baru. Dalam manajemen bisnis modern, kreativitas dan inovasi bukan semata-mata milik Departemen Research and Development (Departemen R & D), tetapi bisa digali dan dijaring melalui seluruh unsur perusahaan atau masyarakat. Memang diperlukan sikap terbuka dari manajemen bisnis terhadap segala saran atau ide-de baru.
Media apa yang dapat kita gunakan dalam menggali dan menjaring kreativitas? Di antaranya:
• Kotak saran.
Melalui kotak saran yang ditempatkan di lokasi yang strategis di lingkungan perusahaan akan membuka kesempatan seluruh komponen baik karyawan dari semua departemen atau tingkatan, pemilik, dan masyarakat memberikan saran atau ide-ide kreatifnya. Saran atau ide dapat bersifat terbuka mencantumkan identitas penulis saran/ide atau tertutup tanpa identitas penulis saran/ide. Manfaat informasi penulis saran/ide, agar manajemen dapat memberikan insentif bagi ide-ide kreatif yang dapat di implementasikan dan bermanfaat bagi perusahaan.
• Forum Group Discussion (FGD).
Manajemen dapat mengundang berbagai sumber misalnya konsumen, kritikus, atau karyawan untuk mendiskusikan dan mencari alternatif pengembangan ide-ide baru dari berbagai aspek. Misalnya pengembangan produk baru atau cara pemasaran.
• Email dan intranet.
Pemanfaatan teknologi informasi internet dan intranet di perusahaan akan mempercepat muncul dan mengalirnya kreativitas karyawan atau konsumen. Bahkan mungkin diperlukan satu bidang tersendiri untuk mengumpulkan, mengelompokkan dan mendistribusikan kreativitas tersebut untuk kepentingan Departemen R & D atau pimpinan perusahaan bagi pengambilan keputusan strategis.
• Rapat rutin.
Dapat juga untuk menggali dan menjaring kreativitas peserta rapat dengan melontarkan ide untuk didiskusikan.
• Informasi.
Berkembangnya media informasi berupa majalah, koran, internet dan lainnya yang fokus pada pengembangan manajemen dapat menjadi sumber inspirasi bagi munculnya kreativitas pembaca/pengaksesnya.
• Opini/saran.
Perusahaan dapat mengundang konsultan khusus manajemen untuk memberikan pencerahan dalam pengelolaan dan pengembangan manajemen terkini. Opini atau saran konsultan tersebut dapat mendorong munculnya kreativitas dan inovasi pada semua unsur manajemen.
Untuk memperoleh efektivitas, maka kreativitas yang muncul melalui media-media tersebut harus segera memperoleh respons manajemen bisnis dengan merumuskannya dalam agenda kajian dan penelitian agar dapat segera diwujudkan dalam mengembangkan aspek manajemen terkait. Keterbukaan dan kesadaran manajemen bisnis untuk terus membuat inovasi, sangat dibutuhkan dalam menjaga komitmen pengelola untuk membawa perusahaan pada tujuan kesuksesan bisnisnya.
KESIMPULAN
Dari pemaparan ekonomi kreatif dan manajemen bisnis, dapat kita simpulkan bahwa antara kreatifitas yang timbul harus ada sebentuk manajemen yang baik agar mampu merencanakan, mengontrol, mengarahkan dan meng-aplikasi-kan bentuk-bentuk kreatifitas itu sendiri. Perencanaan yang baik bisa kita dapatkan melalui pengetahuan akan pasar serta kegiatan yang terjadi dimasa sebelumnya. Pengontrolan dan mengaplikasikan setiap kegiatan bisa kita himpun dalam manajemen operasi yang baik serta system service yang berjalan secara berkala dan terpadu.
Untuk mencapai hasil yang sempurna, walaupun tidak ada yang sempurna, kita juga harus memiliki semangat kerja keras yang tinggi, seperti di jelaskan sebelumnnya, ekonomi kreatif merupakan ekonomi yang kejam, dimana dituntut keseriusan dalam menjalankannya dan perputaran ide yang harus selalu cepat tanggap akan peristiwa terkini dalam dunia ekonomi.
Dan pada akhirnya kita menemukan sebuah solusi atas kegagalan atau lebih tepatnya kita sebut dengan ketidakmampuan untuk berbuat lebih banyak pada ekonomi kreatif. Karena fakta yang terjadi adalah, banyaknya pelaku ekonomi kreatif dihadapkan pada ketidak tahuan dalam membangun system manajemen yang baik sehingga terjadi stress dalam mengembangkan kegiatan bisnisnya. Dan pada akhirnya kita temui banyak kegagalan oleh pelaku ekonomi kreatif secara mayoritas yang hanya berjalan secara statis, tidak memperlihatkan peningkatan yang signifikan dan tidak mampu mencapai target yang lebih baik.
Dan pada point terakhir ini, harus kita ingat sekali lagi, bahwa kekuatan mimpilah yang dapat membangun kita untuk dapat berkreasi lebih banyak serta berpikir lebih keras. Oleh karena itu janganlah berhenti untuk bermimpi dan janganlah berhenti untuk terus melangkah, karena dalam pepatah dikatakan, “kita tidak akan mengetahui apa yang terjadi esok hari, jika kita berhenti hari ini”.
“a mix of creative economic and good business management”
Economic Creative
Pada dasarnya pertumbuhan ekonomi kreatif digerakkan oleh kapitalis kreativitas dan inovasi dalam menghasilkan produk atau jasa dengan kandungan kreatif. Kata kuncinya adalah kandungan kreatif yang tinggi terhadap masukan dan keluaran aktivitas ekonomi ini. istilah ekonomi kreatif memang masih relative baru. Tidak mengherankan kalau pengertiannya belum didefinisikan dengan jelas. Secara umum dapat dikatakan bahwa ekonomi kreatif adalah system kegiatan manusia yang berkaitan dengan kreasi, produksi, distribusi, pertukaran dan konsumsi barang dan jasa yang bernilai cultural, artistic, estetika, intelektual, dan emosional bagi para pelanggan di pasar.
John howkins dalam The Creative Economy (2001) menemukan kehadiran gelombang ekonomi kreatif setelah menyadari untuk pertama kalinya pada tahun 1996 karya hak cipta Amerika Serikat mempunyai nilai penjualan ekspor sebesar 60,18 miliar dolar, yang jauh melampaui ekspor sector lainnya, seperti otomotif, pertanian, dan pesawat. Dia mengusulkan 15 kategori industry yang termasuk dalam ekonomi kreatif (dapat dilihati di Tabel 1). Perlu diketahui, interpretasi negara-negara didunia tidak secara mutlak mengacu ke 15 sektor ini, negara-negara didunia mengkontektualkan lagi sesuai kondisi dan prioritas negaranya masing-masing.
Ekonomi creative patut untuk dikembangkan di tengah ancaman krisis yang melanda dunia khusus Indonesia. Kita dihadapkan oleh ratusan perusahaan dalam negeri dan luar negeri yang berbondong-bondong melakukan PHK terhadap ribuan tenaga kerja di dunia. Apa lagi yang dapat kita lakukan selain menciptakan lapangan kerja baru serta selalu mencari ide posotif baru yang dapat menghasilkan pundi-pundi dalam kehidupan kita.
Oleh Menteri ekonomi, Mari Elka Pangestu, mengungkapkan, peran industri ekonomi kreatif tak bisa dianggap remeh. Sepanjang 2002-2006, industri kreatif Tanah Air menyumbang Rp 104,6 triliun atau 6,3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB); dan berkontribusi 10,6 persen dari total ekspor atau senilai Rp 81,4 triliun. Ini tentu capaian fantastis, mengingat Singapura saja, kontribusi industri kreatif hanya 2,8 persen terhadap PDB. Sementara Inggris mencapai 7,9 persen. Karena tak bisa dibilang kecil, pemerintah akan mendukung penuh 15 sektor industri kreatif.
Ekonomi kreatif memberikan gambaran kepada kita tentang situasi bisnis persaingan paling kejam. Kelas kreatif di dalam industry ini tidak pernah berpuas diri dan selalu mencari jalan untuk berinovasi kalau ingin terus berkembang dan tumbuh. Kunci suksesnya antara laian kepiawaian dalam membaca peluang, kecepatan menghadirkan produk dalam merebut peluang, kecermatan dalam memperhitungkan tingkat resiko berikt dengan rencana cadangan, kemampuan berkolaborasi dengan pihak lain, dan siasat yang jitu dalam menghadapi persaingan. Tidak heran bahwa industry kreatif mempunyai cirri-ciri antara lain siklus hidup produknya yang semakin banyak, bersifat musiman atau menurut peristiwa tertentu, produk yang mudah di bajak atau di tiru, dan tingkat persaingan yang ketat.
Oleh karena itu di butuhkan perencanaan yang benar-benar matang, selain harus di dukung oleh 3T, yaitu:
1. Talenta: Sudah jelas, untuk menghasilkan sesuatu yang berdaya saing, dibutuhkan sdm yang baik, yaitu Talenta. Orang-orang yang memiliki talenta memiliki penghasilan yang tinggi dari gagasan-gagasan kreatifnya. John Howkins menyebut mereka sebagai orang-orang yang hidup dari penciptaan gagasan dan mengeksploitasinya dengan berbagai cara. Florida mengklasifikasi kelas ini, ada yang bernuansa akademik (universitas), ada yang berorientasi teknologi (tech-pole) ada yang bernuansa artistik (bohemian), pendatang (imigran & warga negara keturunan etnis tertentu) bahkan sampai pada yang bernuansi orientasi sex (gay). Tom Peters bahkan mengatakan dalam seminarnya, dengan gaya yang khas ia mengatakan: bila anda ingin inovatif, gampang saja, bergaulah dengan orang-orang aneh dan anda akan bertambah kreatif. Tapi jika anda bergaul dengan orang-orang yang membosankan, anda akan semakin membosankan juga.
2. Toleransi: Sebelum era ekonomi kreatif ini teridentifikasi, orang beranggapan bila ingin mendapat pekerjaan sebaiknya pindah kesuatu daerah dimana terdapat pengkonsentrasian kawasan-kawasan industri (Aglomerasi). Mungkin itu tetap benar. Namun jaman juga mengalami perubahan. Florida mengatakan bahwa saat ini lapangan pekerjaan akan tercipta di tempat-tempat dimana terdapat konsentrasi yang tinggi dari para pekerja kreatif, bukan kebalikannya. Mengapa, mudah saja, orang-orang yang memiliki talenta tinggi memiliki daya tawar yang tinggi, mereka memiliki banyak alternatif karena permintaan tinggi. Bila mereka ditawari pekerjaan didaerah-daerah yang sepi dan membosankan, mereka cenderung akan menolak, maka yang lebih berkepentingan adalah user dari pekerja kreatif ini dan user akan mengalah, asalkan mereka mendapat SDM yang berkualitas. Bahkan juga dengan adanya internet, pekerja-pekerja bahkan tidak perlu masuk ke kantor, cukup bekerja jarak jauh baik di cafe maupun di rumah-rumahnya. Tom Peters kembali membuat analogi seperti ini: bayangkan anda membangun sebuah stadion olah raga yang sangat canggih disuatu kota, tapi tidak ada kelompok sepak bola yang handal dikota itu. Apakah penonton akan datang ke kota tersebut untuk melihat pertandingan yang tidak bermutu? Tentu tidak. Apa hubungannya dengan Toleransi? Ini berkaitan dengan iklim keterbukaan. Bila suatu daerah memiliki tingkat toleransi yang tinggi terhadap gagasan-gagasan yang gila dan kontroversial, serta mendukung orang-orang yang berani berbeda, maka iklim penciptaan kreatifitas dan inovasi akan semakin kondusif, karena pekerja kreatif dapat bebas mengekpresikan gagasannya. Termasuk dalam toleransi adalah kemudahan untuk memulai usaha baru dan ketersediaan kanal-kanal solusi finansial untuk mengembangkan bisnis.
3. Teknologi. Teknologi sudah menjadi keharusan dan berperan dalam mempercepat, meningkatkan kualitas dan mempermudah kegiatan bisnis dan bersosial. Dewasa ini semakin banyak pekerjaan manusia yang digantikan oleh teknologi membuat manusia sebagai operatornya memiliki lebih banyak waktu untuk memikirkan gagasan-gagasan baru. Jika pernyataan ini saya balik, maka menjadi demikian: semakin manusia direpotkan oleh aktivitas fisik dan tidak dibantu oleh teknologi, maka sebagian besar waktu manusia akan habis terbuang untuk urusan teknis. Dalam arti lain: teknologi menunjang produktifitas. Dengan demikian, kemudahan mengakses dan membeli teknologi, transfer teknologi adalah faktor penting dalam pembangunan ekonomi kreatif. Contoh dalam penggunaan perangkat lunak. Bagi Negara berkembang seperti Indonesia, pembelian lisensi perangkat lunak adalah suatu kendala besar karena harga perangkat lunak di Jakarta masih relatif sama dengan harga di New York. Tentu dirasakan mahal oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Biaya mengakses internet di Indonesia juga masih dirasakan terlalu tinggi dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Ini adalah faktor penghambat kelancaran lahirnya industri-industri baru.
Jadi, telah jelas bahwa realitas dan fenomena ekonomi kreatif sebenarnya bukanlah hal yang baru bagi Indonesia yang telah terbukti memiliki aset kreativitas sejak dulu. Indonesia tidak kekurangan modal kreatifitas hanya kekurangan kemampuan mengintegrasikannya. Untuk itu langkah-langkah yang dibutuhkan adalah: Mengenali apa yang kita miliki (jati diri bangsa dan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia) dan menyusun langkah-langkah konstruktif sebagai berikut:
1. Menyusun Cetak Biru Ekonomi Kreatif Indonesia yang melibatkan seluruh Stake Holder.
2. Mengajukan usulan kebijakan Ekonomi Kreatif yang konprehensif
3. Menggiatkan inisiatif, baik swasta maupun Pemerintah untuk menciptakan tempat-tempat pengembangan talenta industri kreatif didaerah-daerah
4. Menciptakan produk & jasa yang kreatif dan berbasis budaya berdasarkan prioritasnya, misalnya:
- Pariwisata
- Kerajinan
- Gaya Hidup (spa, herbal, kulinari)
- Furniture, dll
5. Menciptakan pasar berbasis budaya didalam negeri karena selama ini selalu menjadi target pasar dari negara lain
6. Menumbuhkan semangat invovasi dan kreativitas didalam dunia pendidikan agar generasi muda mampu melahirkan gagasan baru berdasarkan apa yang sudah dimiliki sejak dulu
7. Transfer teknologi yang konsisten terhadap industri kreatif berwawasan budaya seperti disebut diatas
8. Meningkatkan pendapatan devisa berbasis kreatif atas sektor-sektor tersebut diatas
9. Promosi Potensi Indonesia
- Alam
- Warisan Budaya (herritage)
- Budaya
10. Sosialisasi, diseminasi dan promosi secara sistimatis tentang kekuatan Indonesia dibidang Industri kreatif agar diperhitungkan di Peta kompetensi Dunia.
Tentu saja agenda yang diutarakan disini barulah sebuah insights untuk pembangunan ekonomi kreatif di Indonesia. Dan untuk mengintegritaskan seluruh agenda, konsep dan rencana jangka panjang, tentunya kita akan membutuhkan sebuah manajemen yang baik pula, yang akan dipaparkan di bawah ini.
MANAJEMEN BISNIS
1. MANAJEMEN BISNIS
Bisnis merupakan kegiatan dalam menjual produk atau jasa agar memberikan keuntungan bagi pemiliknya. Bisnis merupakan kegiatan beresiko memberikan kerugian baik dari segi material atau non-material. Namun bila berhasil maka akan memberikan keuntungan dan kesejahteraan bagi pemiliknya. Agar terhindar dari resiko bisnis maka bisnis harus dijalankan dengan tepat dengan perencanaan yang matang dan pelaksanaan yang serius dan mantap. Bisnis terdiri atas beberapa komponen penting yang saling mendukung dan melengkapi. Bila salah satu komponen gagal maka akan mengganggu komponen lain. Berikut adalah komponen-komponen bisnis tersebut:
• Manajemen, yaitu bagian yang merencanakan, mengelola, dan menjalankan bisnis. Komponen ini bisa disebut sebagai backend yaitu komponen yang berada di belakang layar.
• Kekuatan brand atau image, yaitu karisma, kekuatan emosional yang dimiliki oleh perusahaan dan merupakan pandangan/perasaan masyarakat terhadap perusahaan atau produk.
• Produk atau Layanan, komponen yang dijual atau ditawarkan kepada pasar. Komponen ini bisa disebut sebagai front end karena komponen ini berada didepan. Komponen inilah yang berhadapan dengan masyarakat.
• Partner, yaitu pihak yang ikut membantu dalam menjalankan bisnis.
• Pelanggan, yaitu pihak yang akan menerima tawaran atau membeli produk dan layanan yang ditawarkan.
Dalam membentuk perencanaan yang matang untuk melakukan suatu kegiatan bisnis, berikut langkah-langkah yang harus kita ketahui :
• The Scope Of Bussiness,
• Business Environment,
• Business Ethics & Responsibility,
• The Legal Form of the Business Ownership,
• The Global Context of Business,
• The Function of Management,
• Organizing the Business Enterprise,
• Marketing Process & Consumer Behavior,
• Principle of Accounting & Finance,
• Managing Human Resource,
• Managing Operation & Improving Quality,
• Managing Information System & Communication Technology.
Hal-hal yang harus diperhatikan:
Laws and regulation
What are some key laws and regulations under which this company and industry must operate ?
The economy
How does the state of the economy influence the sales of this company’s product?
Technology
What new technologies strongly affect the company you have selected?
Demographics
What changes in the population might affect the company’s customer based ?
Social issues
What changes in society affect the market for your company’s products ?
Suppliers
How does you company’s relationship with suppliers affect its profitability ?
Competitors
What companies compete with the firm you have selected? Do they compete on price, on quality, or on other factors ?
New Entrants
Are new competitors to the company likely ? Possible!
Substitutes
Is there a threat of substitutes for this industry’s existing products ?
Customer
What characteristics of the company’s customer based influence the company’s competitiveness ?
2. Menggali dan Menjaring Kreativitas
PENGEMBANGAN bisnis hanya akan terjadi bila terus ditemukan kreativitas dalam seluruh aspek manajemen bisnis, baik dari produk, proses, marketing dan lainnya agar dapat diimplementasikan menjadi inovasi. Sebagai contoh inovasi produk kripik salak muncul karena adanya hasil salak yang cukup melimpah serta teknologinya tidak terlalu jauh berbeda dengan proses pembuatan kripik pisang. Viral marketing muncul setelah penggunaan media internet menjamur dan familiar di masyarakat.
Kreativitas, ide-ide baru dan inovasi sangat erat hubungannya. Kreativitas adalah segala hal yang berhubungan dengan munculnya ide-ide baru. Sedang inovasi merupakan tindakan yang berkait dengan penerapan ide-ide baru. Dalam manajemen bisnis modern, kreativitas dan inovasi bukan semata-mata milik Departemen Research and Development (Departemen R & D), tetapi bisa digali dan dijaring melalui seluruh unsur perusahaan atau masyarakat. Memang diperlukan sikap terbuka dari manajemen bisnis terhadap segala saran atau ide-de baru.
Media apa yang dapat kita gunakan dalam menggali dan menjaring kreativitas? Di antaranya:
• Kotak saran.
Melalui kotak saran yang ditempatkan di lokasi yang strategis di lingkungan perusahaan akan membuka kesempatan seluruh komponen baik karyawan dari semua departemen atau tingkatan, pemilik, dan masyarakat memberikan saran atau ide-ide kreatifnya. Saran atau ide dapat bersifat terbuka mencantumkan identitas penulis saran/ide atau tertutup tanpa identitas penulis saran/ide. Manfaat informasi penulis saran/ide, agar manajemen dapat memberikan insentif bagi ide-ide kreatif yang dapat di implementasikan dan bermanfaat bagi perusahaan.
• Forum Group Discussion (FGD).
Manajemen dapat mengundang berbagai sumber misalnya konsumen, kritikus, atau karyawan untuk mendiskusikan dan mencari alternatif pengembangan ide-ide baru dari berbagai aspek. Misalnya pengembangan produk baru atau cara pemasaran.
• Email dan intranet.
Pemanfaatan teknologi informasi internet dan intranet di perusahaan akan mempercepat muncul dan mengalirnya kreativitas karyawan atau konsumen. Bahkan mungkin diperlukan satu bidang tersendiri untuk mengumpulkan, mengelompokkan dan mendistribusikan kreativitas tersebut untuk kepentingan Departemen R & D atau pimpinan perusahaan bagi pengambilan keputusan strategis.
• Rapat rutin.
Dapat juga untuk menggali dan menjaring kreativitas peserta rapat dengan melontarkan ide untuk didiskusikan.
• Informasi.
Berkembangnya media informasi berupa majalah, koran, internet dan lainnya yang fokus pada pengembangan manajemen dapat menjadi sumber inspirasi bagi munculnya kreativitas pembaca/pengaksesnya.
• Opini/saran.
Perusahaan dapat mengundang konsultan khusus manajemen untuk memberikan pencerahan dalam pengelolaan dan pengembangan manajemen terkini. Opini atau saran konsultan tersebut dapat mendorong munculnya kreativitas dan inovasi pada semua unsur manajemen.
Untuk memperoleh efektivitas, maka kreativitas yang muncul melalui media-media tersebut harus segera memperoleh respons manajemen bisnis dengan merumuskannya dalam agenda kajian dan penelitian agar dapat segera diwujudkan dalam mengembangkan aspek manajemen terkait. Keterbukaan dan kesadaran manajemen bisnis untuk terus membuat inovasi, sangat dibutuhkan dalam menjaga komitmen pengelola untuk membawa perusahaan pada tujuan kesuksesan bisnisnya.
KESIMPULAN
Dari pemaparan ekonomi kreatif dan manajemen bisnis, dapat kita simpulkan bahwa antara kreatifitas yang timbul harus ada sebentuk manajemen yang baik agar mampu merencanakan, mengontrol, mengarahkan dan meng-aplikasi-kan bentuk-bentuk kreatifitas itu sendiri. Perencanaan yang baik bisa kita dapatkan melalui pengetahuan akan pasar serta kegiatan yang terjadi dimasa sebelumnya. Pengontrolan dan mengaplikasikan setiap kegiatan bisa kita himpun dalam manajemen operasi yang baik serta system service yang berjalan secara berkala dan terpadu.
Untuk mencapai hasil yang sempurna, walaupun tidak ada yang sempurna, kita juga harus memiliki semangat kerja keras yang tinggi, seperti di jelaskan sebelumnnya, ekonomi kreatif merupakan ekonomi yang kejam, dimana dituntut keseriusan dalam menjalankannya dan perputaran ide yang harus selalu cepat tanggap akan peristiwa terkini dalam dunia ekonomi.
Dan pada akhirnya kita menemukan sebuah solusi atas kegagalan atau lebih tepatnya kita sebut dengan ketidakmampuan untuk berbuat lebih banyak pada ekonomi kreatif. Karena fakta yang terjadi adalah, banyaknya pelaku ekonomi kreatif dihadapkan pada ketidak tahuan dalam membangun system manajemen yang baik sehingga terjadi stress dalam mengembangkan kegiatan bisnisnya. Dan pada akhirnya kita temui banyak kegagalan oleh pelaku ekonomi kreatif secara mayoritas yang hanya berjalan secara statis, tidak memperlihatkan peningkatan yang signifikan dan tidak mampu mencapai target yang lebih baik.
Dan pada point terakhir ini, harus kita ingat sekali lagi, bahwa kekuatan mimpilah yang dapat membangun kita untuk dapat berkreasi lebih banyak serta berpikir lebih keras. Oleh karena itu janganlah berhenti untuk bermimpi dan janganlah berhenti untuk terus melangkah, karena dalam pepatah dikatakan, “kita tidak akan mengetahui apa yang terjadi esok hari, jika kita berhenti hari ini”.
Langganan:
Postingan (Atom)
